Buku ini bukan sekadar catatan teori, melainkan kelanjutan dari kemitraan panjang para penulis yang unik. Indra Utoyo, pelopor program transformasi digital di Telkom hingga BRI, bersinergi dengan Dimitri Mahayana, pemikir visioner teknologi informasi dari ITB, dan diperkaya analisis mendalam oleh Agus Nggermanto, pemikir logika futuristik. Sinergi ini membuahkan buku sebagai sebuah Manifesto — sebuah peta navigasi agar AI (kecerdasan artifisial) tetap menjadi pelayan bagi kemajuan manusia,bukan tuan yang menciptakan ketergantungan yang melumpuhkan manusia.
Perjalanan buku ini dimulai dengan Prolog, yang membedah realitas pahit tentang matinya model bisnis lama (Business as Usual) dampak kemajuan AI; dan ditutup dengan Epilog, sebuah seruan moral bagi kita semua untuk memilih masa depan yang diinginkan—sebuah pengingat bahwa tujuan akhir dari kecerdasan mesin AI haruslah untuk kemuliaan martabat manusia. Sepanjang perjalanan, kita akan diajak mengarungi samudera AI yang penuh badai gelombang. Optmisme, skeptisme, dan kewaspadaan nurani akan selalu menemani.
Masa depan yang bermakna, bagi manusia dan semesta, tidak lahir dari kepatuhan pada sistem atau algoritma, melainkan dari kesediaan manusia untuk tetap berpikir dan bertanggung jawab. Karena itu mari kita pastikan bahwa di era kecerdasan mesin ini, nurani dan martabat kemanusiaanlah yang tetap memegang kemudi.


