Pada era digital saat ini , ketika AI (akal imitasi/artificial intelligence) membentuk lanskap baru bagi pengetahuan, notifikasi menggerus keheningan, algoritma menentukan apa yang kita lihat, baca, bahkan pikirkan—cahaya kesadaran semakin sukar dikenali. Kadang ia hadir sebagai benderang yang menipu, kadang sebagai nyala kecil yang hampir padam.
Di sinilah filsafat sains menjadi panggilan yang mendesak, yang meminta kita berhenti sejenak untuk bertanya: apakah kita masih memahami apa makna mengetahui? Pertanyaan itu, lebih dari sekadar abstraksi epistemologis, adalah pertanyaan tentang kemanusiaan kita sendiri.
Dalam buku ini, Anda akan menemukan beragam pertanyaan dan jawaban akan makna kesadaran, kosmos, dan kemajuan komputasi. Setiap jawaban akan memercikkan pertanyaan baru :
- Mengapa kesadaran menjadi makain penting bagi kita sebagai umat manusia?
- Apakah AI memiliki kesadaran seperti manusia? Ataukah AI lebih cerdas dari manusia
- Bagaimana nasib umat manusia dan seluruh kosmos ketika daya komputasi tumbuh eksponensial tanpa kendali?
Buku ini dibangun dari keyakinan bahwa saind tanpa makna akan kehilangan arah, dan makna tanpa rasionalitas akan kehilangan pijakan. Keduanya perlu saling menyapa. Buku ini bagai lentera kecil dalam perjalanan panjang menuju pemahaman. Jika lentera ini menambah setitik terang dalam pencarian pembaca, seluruh perjalanan penulis–dari ruang kelas hingga ruang renungan, dari laboratorium hingga lingkaran filsafat–tidaklah sia-sia.

