Apa yang dibawa pulang seseorang setelah mengunjungi Lasem? Mungkin selembar batik, beberapa foto bangunan tua, atau sekadar kenangan perjalanan. Namun, bagi sebagian orang, Lasem meninggalkan sesuatu yang lebih dalam, seperti cerita tentang manusia, sejarah, dan kebudayaan yang hidup di balik setiap sudut kotanya. Pertanyaan itulah yang mengantarkan penulis menyusun buku ini. Melalui pengamatan, wawancara, dan penelusuran berbagai sumber, penulis memahami bahwa Lasem tidak cukup dipandang sebagai sentra batik saja. Di dalamnya terdapat perjumpaan budaya, kehidupan para pembatik, warisan sejarah, serta hubungan antarmasyarakat yang turut membentuk identitas dan daya tarik Lasem.
Komunikasi pemasaran adalah cara sebuah nilai diperkenalkan dan dijelaskan kepada calon konsumen. Bentuknya dapat berupa iklan, promosi penjualan, media sosial, pameran, atau percakapan langsung dengan pelanggan. Persoalan komunikasi pemasaran Lasem tidak berada pada satu titik. Data lapangan memperlihatkan jarak antara identitas yang dikenal publik, cerita yang diterima wisatawan, kemampuan pelaku usaha memakai media digital, serta kondisi produksi batik di tingkat pengrajin. Masalah-masalah tersebut saling berhubungan. Ketika Lasem lebih dikenal melalui satu produk, unsur sejarah dan kehidupan kotanya dapat kurang terlihat. Ketika cerita di lapangan tidak tersambung, wisatawan harus menyusun sendiri makna dari tempat yang dikunjungi. Pada sisi usaha, produk yang baik juga belum tentu bertemu dengan kebutuhan pasar atau mudah ditemukan melalui kanal digital.
Komunikasi pemasaran Lasem perlu dibaca dari hubungan antara pesan yang disampaikan, pelaku yang menyampaikan, dan pengalaman yang diterima pengunjung. Orang mungkin mengenalnya dari selembar batik, lalu tertarik pada rumah tua, sejarah keluarga, kampung, kuliner, ritual, atau kehidupan para pembatik. Karena itu, komunikasi pemasaran Lasem perlu menghubungkan produk dengan tempat dan pengalaman di baliknya.
Penulis menyadari bahwa buku ini belum mampu menggambarkan seluruh kekayaan dan kompleksitas Lasem. Namun, penulis berharap buku ini dapat mengajak pembaca melihat bahwa di balik selembar batik terdapat manusia yang berkarya, sejarah yang perlu dipahami, dan kehidupan yang terus berubah.

