Apakah masih ada yang membuat manusia tidak tergantikan ketika sebuah program AI bisa mencipta atau menghasilkan karya dalam hitungan detik? Ketika sebuah program AI bisa menghasilkan abstrak makalah dalam hitungan detik, apakah itu berarti berpikir? Ketika sebuah model generatif bisa melukis dalam gaya Rembrandt, apakah itu berarti berkarya?
Buku ini membongkar paradoks paling tajam di era AI generatif. Riset terbaru menunjukkan bahwa AI memang membuat individu lebih kreatif. Namun saat semua orang memakai AI yang sama, dunia menjadi seragam. Lima ratus penulis, lima ratus cerita, menjadi satu karya yang seragam .
Dimitri Mahayana mencoba menelusuri hasil-hasil literatur ilmiah terbaru tentang AI dan kreativitas serta pemikiran para filsuf dan psikolog besar yang selama ini kurang mendapat tempat dalam diskusi teknologi, seperti Freud, Jung, Csikszentmihalyi, Camus, May. Ia menemukan bahwa semua sumber tersebut menunjuk ke arah yang sama.
Kreativitas manusia tak tergantikan karena lahir dari kehidupan yang dijalani sepenuhnya. Kreativitas adalah hasil kondisi alamiah manusia dengan semua luka, kecemasan, keberanian, dan harapannya. AI tidak bisa mengalami itu. Karena itu, AI tidak bisa mencipta pengertian yang paling manusiawi.
Dimitri meramu hasil penelusurannya dalam lima belas bab. Setiap bab ditutup dengan rekomendasi konkret untuk Indonesia. Total dua belas rekomendasi akhir menyentuh pendidikan kreativitas, perlindungan humaniora, regulasi hak cipta AI, urgensi LLM (Large Language Model) asli Indonesia, zona bebas digital di sekolah, integrasi pesantren dengan studio kreatif, hingga keluarga sebagai ruang pertama keberanian meloncat.
Buku ini merupakan sebuah undangan untuk kembali percaya pada pikiran, perasaan, dan pengalaman hidup Anda sendiri, sebelum terlambat.

