Pada era digital saat ini , ketika AI (akal imitasi/artificial intelligence) membentuk lanskap baru bagi pengetahuan, notifikasi menggerus keheningan, algoritma menentukan apa yang kita lihat, baca, bahkan pikirkan—cahaya kesadaran semakin sukar dikenali. Kadang ia hadir sebagai benderang yang menipu, kadang sebagai nyala kecil yang hampir padam.
Di sinilah filsafat sains menjadi panggilan yang mendesak, yang meminta kita berhenti sejenak untuk bertanya: apakah kita masih memahami apa makna mengetahui? Pertanyaan itu, lebih dari sekadar abstraksi epistemologis, adalah pertanyaan tentang kemanusiaan kita sendiri.

